Stigma Fotografi Yang Harus Diketahui

Ketika seseorang suka memfoto.... Beberapa orang tua seringkali mengernyitkan kening bila sang anak (apalagi anak cewek)  punya, hob...

Ketika seseorang suka memfoto....

Beberapa orang tua seringkali mengernyitkan kening bila sang anak (apalagi anak cewek)  punya, hobi fotografi. Bukan cuma orang tua, dalam kasus orang dewasa, yang suka ikut menaikkan alis biasanya adalah : pasangan (eits, ini curcol orang lain, ya). Hahaha.

Mungkin gara-gara stigma yang sudah terlanjur lekat pada dunia ini.  Mari kita kupas satu persatu :

1. Fotografi identik dengan barang mahal

Begitu sudah punya kamera, entah mau itu DSLR atau mirrorless (kecuali pocket-eh masih ada nggak ya, itu?) maka kebutuhannya akan bertambah. Andai kita cuma beli body kamera sekalipun karena pelit (HAH) rentetan selanjutnya yang dibutuhkan, ya pasti... lensa! Itu akan berlanjut ke hal lain.

Sudah bukan rahasia lagi kalau peer-pressure dalam lingkungan penggemar fotografi itu lumayan besar. Ya, mungkin sekedar bercandaan antar kawan supaya ikrib. Tapi selalu ada saja korban yang diam-diam membawa pulang baper dan galau. Ibaratnya habis pergi ke pesta, semua pakai baju pesta keren mentereng, kita cuma pakai jeans,  lama-lama merasa seperti kurcaci diantara para raksasa. Perasaan ingin jadi Cinderella pesta bukan dominasi kaum cewek saja, lho, girls. 

Sementara para senior di bidang ini, aku lihat santai-santai saja, tidak terlalu meributkan masalah merek dan perabot-sampai saling bully (itu SARA di dunia fotografi). Makin lama seseorang mendalami fotografi, bisa sampai pada kesimpulan : orang di belakang kamera lebih penting. Jelas bukan semacam self-defense-mechanism. Banyak bukti nyata di lapangan.  Lha,  foto-foto yang dihasilkan oleh smartphone jaman sekarang saja sudah bisa masuk headline koran cetak, kok? Sementara yang pada segambreng pakai kamera profesional malah kehilangan momen.

Kesimpulannya, semua bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan.... anggaran. Yang perlu diatur cuma satu, hmm, apa, ya... hawa nafsu, kali, hahahaha. Kalau budget serta kebutuhan kita sudah cukup dan terpuaskan dengan peralatan yang tarafnya entry level,  apa perlu memaksakan diri naik ke peralatan professional level, dengan resiko tiap hari hanya makan mie instan? Apa? Supaya nggak di bully?  Bukannya rasanya lebih nikmat mem-bully yang punya kamera bagus, tapi hasil foto malah kalah oke dengan yang pakai kamera seadanya?  Eh, ini, kok, malah ngajarin yang nggak bener, sih. Hahaha. No. No. No. Stop bullying, guys.



Membuat kamera sendiri?
Serius, nih? Kan tetap harus punya kamera, jadi tetap harus beli?  Eits. Siapa bilang. Kalau mau bisa bikin sendiri, lho. Sudah pernah dengar tentang Kamera Lubang Jarum?  Komunitasnya juga sudah ada disini, beberapa waktu lalu merayakan World Pinhole Camera Day.

2. Fotografi identik dengan dunia pria

Jaman sekarang, ini sebetulnya sudah tidak relevan lagi, kata orang. Hm, kenyataan sekarangpun, dalam komunitas fotografi, jika menengok ke kiri dan kanan aku masih melihat kebanyakan : cowok-cowok-cowok-cowok. Apalagi bila mainnya sudah teknis sekali, harus paham istilah apperture, white balance, pencahayaan, dsb. Brrr. Hal-hal teknis njelimet ini yang umumnya cewek suka merasa malas ribet. Hidup otomatis!

Nah, karena identik dengan teknis dan pekerjaan lapangan (bagi yang suka hunting), bidang ini sementara masih dipenuhi kaum adam, sehingga lekat pula stigma pergaulan yang erat dengan merokok, memfoto cewek-cewek cantik, kelayapan berkelana, dan nongkrong.

Fotografi identik dengan dunia pria?

Hal-hal semacam itulah.

Aku tidak bisa bilang  anggapan demikian 100% salah, tapi itu juga tidak bisa digeneralisasi. Selalu ada yang tidak tertarik dengan semua itu. Mereka yang hidupnya di bidang ini biasanya juga lebih ketat mengatur waktu. Memang kumpul-kumpul bisa membangun suasana saling transfer ilmu, informasi, hingga mendapatkan job. Tapi semua kembali pada prioritas hidup dan peminatan seseorang. Yang perlu aku garis bawahi disini, dalam sebuah pergaulan, beberapa hal memang harus direlakan lewat. Suatu hal yang biasa terjadi di berbagai komunitas. Tinggal kitanya mau melepaskan itu atau tidak, betul?

Dengan berkembangnya teknologi kita bisa mendapat informasi lewat berbagai jalan. Minat kaum hawa bersama kesadaran gaya hidup sehat juga meningkat. Jadi tidak sesulit dahulu lagi menemukan "teman sealiran" yang sesuai hati. Ceilee.

3. Harus belajar di sekolah khusus fotografi

Beberapa senior yang kukenal ternyata belajar otodidak alias tidak punya background pendidikan fotografi. Tapi fotonya tetap keren juga, tuh? Memang sekolah akan membantu mengasah dan memangkas waktu karena kita akan lebih diarahkan. Apalagi bagi yang dari awal memiliki keterbatasan waktu, sudah memiliki spesialisasi, dan punya target profesional.  Sementara yang memiliki anggaran terbatas, sebetulnya bisa belajar otodidak dari buku, internet, ikut berbagai komunitas fotografi yang menjamur baik di lingkungan sekolah atau di luar sana.

Belajar fotografi sendirian, bisakah?
 Bila memilih belajar secara otodidak :


Kekurangan : Waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama, kita harus belajar banyak hal, secara waktu terlihat kurang efisien. Perlu rajin bertanya kepada senior lain (alias banyak bergaul-red), menebak-nebak peminatan tanpa pernah mendapatkan feel, ilmu serta pengalaman dari para profesional. Harus rajin ikut acara hunting, dan kalau ada kesalahan harus sadar dan mengoreksi sendiri, karena tidak ada mentor.

Kelebihan : Mandiri, passion lebih terjaga secara stabil. Meminimalisasi pengaruh pergaulan yang tidak diinginkan dan peer-pressure (apalagi kalau belajarnya online dan sendirian lol).  Manajemen waktu serta belajar bisa diatur sendiri - sehingga lebih bisa menikmati proses.  Lebih fokus pada yang disukai saja, tanpa perlu tergoda belok kiri-kanan melihat model peminatan fotografi yang lain.

---------

Silahkan menambahkan apalagi stigma yang pernah didengar dan kenyataannya.

Jadi bagaimana menurutmu dunia fotografi, terutama para ladies ?


You Might Also Like

18 komentar

  1. Stigma selanjutnya : Fotografi diidentikkan dengan pamer kemewahan. Ya kan fotografer suka nenteng2 kamera kemana2.. Sering denger orang ngomong gitu.. hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah ini bingung ya mba Jasmi. jadi buat foto harus nenteng apa dong, masa ikan ya hahaha
      tapi kalau ditawarin untuk difoto gratis akhirnya malah rebutan juga

      Hapus
  2. kamera yang bagus memang mahal ya, apalagi untuk yg profesional

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Tira, ada harga ada rupa. Tapi ya harus dipertimbangkan balik modalnya juga. Jaman sekarang bisa sewa juga.

      Hapus
  3. Mbak Fiberti, anakku kls 6 tertarik belajar fotografi...nanti kepengen ikut ekskulnya. Menurut mbak, kamera merk apa ya yang cocok sesuai seler tapi ga mahal bgt? Tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam mba Nurul. Anak 6 SD masih berubah2 peminatannya, jadi disarankan tdk berinvestasi terlalu besar sampai anak cukup matang dan benar2 serius. Kamera yang dianjurkan adalah yang mudah digunakan misal, kamera pocket. Silahkan ditanyakan kpr pembimbing ekskul, kriteria kamera apa yang mereka butuhkan. Semua merk kukira sama saja ya, punya kelebihan dan kekurangan masing2..

      Hapus
  4. Ada harga ... ada rupa. Memang benar mbak. hehehe. Tapi sekarang ini pun juga sudah banyak smartphone dengan kamera yang mumpuni. So... kalau memang bisa kenapa gak pakai smartphone juga ya? Apalagi kalau street photography.

    Untuk yang ketiga, saya lebih suka belajar sendiri sih pada akhirnya. Karena bagi saya sih, fotografi itu seni uji coba sampai ketemu teknik yg cocok sama kita dan mengetes seberapa passion kita dalam hal itu.

    Eh iya, menurut mbak, mana yg penting... tools or the person behind the tools?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Smartphone skrg makin canggih jadi bisa dipakai utk street photography. Banyak fotografer yang suka pakai juga. Belajar sendiri juga ok mas Feb, lebih menikmati.

      Menurutku lebih penting manusia di belakang peralatan. Misal, beri kamera medium format ke orang yg baru belajar, apakah bisa langsung dapat hasil bagus? Mereka yang sudah prof umumnya mampu memaksimalkan hasil dan mengakali kekurangan tools, misal main di momen, lighting, dengan alat apa saja yg ada (termasuk senter lol).

      Tapi memang beberapa profesi HARUS ya punya tools. Misal wildlife photography,karena nggak punya telefoto masa iya kita harus pakai aji kebal mendekati para singa.:))

      Hapus
  5. Kalau kata mama..fotografi itu kerjaan cowok. Jadi pasti kumpul sama cowok2. Mama takut anaknya kenapa2. Padahal suka banget motret, tapu belum punya DSLR sih. Pengen beli, udah cek harga di priceza.co.id tinggal kelarin tabungan. Cuma yaa gitu...kalau udah punya, dibolehin motret2 gak yaa sm Mama?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya paham masih banyakan cowoknya mba Artha. Tp bidang peminatannya bnyk dan fotografer cewek juga mulai bermunculan. Kalau cuma hobi kita bisa bergaul dg sesama cewek atau solo saja dg jepret2 sendiri. Aku juga bnyk ngobrol dg rekan cewek kalau kumpul2. Krn sedikit jd suka lbh akrab.

      Hapus
  6. Hehehehe iya nih sebagai cewek aku lebih suka yang otomatis memang
    kadang saking malesnya mending kemana mana potret pake hape aja

    Gitu ya ternyata emang :')
    Jadi nyadar hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha kasus keumuman saja sih mba yg sering kutemui juga

      Hapus
  7. Yup setuju yg masalah budget, disesuaikan aja. Kan HP jaman sekarang juga udah bagus buat jepret2, kalau udah menghasilkan baru deh beli perangkat yg agak pro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya.Kualitasnya yg beda tapi kalau kepuasan mmg tergantung masing2 org..

      Hapus
  8. Saya sesuai budget saat ini ya cuma bisa poket ama hape. Semua foto di IG:bulirjeruk dominannya kamera itu.
    pernah iri sama yg punya kamera bagus? pernah lhaaaa. Tapi ya saat ini memang kebutuhannya gak tingkat dewa juga buat beli kamera cetar.
    Cewek ribet mikirin istilah fotografi? Hahaha, saya banget.
    Keluarga saya juga sering merasa saya ini aneh karena suka foto2, tapi kalau saya bilang: oh, ini nanti ada uangnya. Seketika lenyap kerutan2 di kening itu XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba lidha gambarnya ctar juga kok. Khas...tapi salut suka foto tapi masih setia bertahan dengan apa yang sesuai kebutuhan...hahaha ternyata bisa ada uangnya, baru tahu ya mereka...

      Hapus
  9. Jadi ingat ucapan seorang fotografer profesional di twitter yg kesel waktu ada yg lihat foto bagusnya, tapi yang ditanya merk kameranya, bukan tekniknya. Man (woman) behind the gun is the hero. Udah sering lihat teman bawa kamera segede bagong tapi hasil jepretannya kalah bagus dari kamera hp android China. Buatku memang no 1 yg ada di pikiran soalnya pernah ditunjukin harga kamera & lensa punya teman smp merinding aku. Maaf ya heheheee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba rata-rata senior yang sudah punya nama malah ketawa kalau ditanya soal gear terbaru. Mereka tidak terlalu mempersoalkan itu tampaknya lebih yang benar2 dibutuhkan.

      Hapus

Author

Follow Us

Search