Belajar Foto Praktis Dengan Strobist


Sudah lama tertarik pada tehnik pemotretan strobis. Bagi yang belum tahu, ini adalah cara memotret menggunakan lampu flash eksternal (bukan flash yang nempel di kamera, lho, ya).


Kenapa kepo? Ada iming-iming bahwa strobist "menghasilkan kualitas foto yang manis dengan harga minimalis."

Nilai plus lain peralatannya ringkas dan bisa dibawa kemana-mana. Nah, kalau soal kepraktisan dan pengiritan tapi hasil bermutu, langsung mata berbinar-binar dong hahaha..

Namun pemotretan strobist di lapangan umumnya bertaburan model. Hal itu menjadi magnet kaum adam. Itu sesuatu, yang mungkin, membuat kaum hawa langsung ilfil alias tidak antusias mendalami. Ya, tehnik ini umumnya populer digunakan di luar sana untuk memfoto obyek manusia, menjadi daya tarik dari workshopnya.  Sehingga muncullah imej bahwa strobist = memfoto model.

Padahal kalau ditelusuri, fungsi strobist tidak hanya itu, bisa mencakup still life (foto benda mati) dan food photography juga. Pengecualian untuk memotret hewan, bayi, dan anak-anak batita, membutuhkan alat atau teknik tersendiri... karena sifat cahayanya yang "mengejutkan".


Berhubung belum terlalu mendalami, langsung tertarik ketika ada acara Nikon On The Street yang berjudul : "Capture Sport Activity With Strobist On The Beach".  Untuk mentor hadir kembali duo fotografer profesional Pinky Mirror dan Steven Sioe.


Sebagai pemula, tentu niatan tidak terlalu megah, cukup vini, vidi...alias ku datang, ku melihat. Makhluk semacam apakah strobist ini? Dari sana baru diputuskan apakah dia cocok bagi kebutuhan pribadi di masa yang akan datang.

Sebelumnya tentu harus melakukan beberapa persiapan. Karena keputusan ikut agak mendadak, ada beberapa kekurangan-kekurangan. But the show must go on. Siap mental dulu, Biasanya kalau pemotretan dengan model kaum adam menyemut di sekelilingnya bak tembok kokoh yang sulit ditembus. Bagi yang enggan melakukan itu harus pasang strategi lebih, misal membawa tipe lensa yang tepat.
---
Ancol Beach City di hari H, cuaca sedikit mendung. Namanya juga Ancol di hari weekend gitu, lho, tumpah ruah dengan acara-acara dan panggung musik di pantai. Dari pop sampai dangdut. Jadi bisa dibayangkan suasana sangat tidak syahdu.

Ternyata model ceweknya cuma satu. Sisanya.....cowok!  Menarik. Jauh dari gambaran imej strobist yang selama ini populer.

Peserta dan model menerima pengarahan serta mentoring diiringi suara musik dangdut (panggung di belakang)
Acara di mulai dengan pengarahan panitia Nikon Team.  Kebetulan posisi acara fotografi ini lumayan dekat dengan panggung musik. Jadi harus benar-benar fokus, karena distraksi terbesar adalah alunan suara dangdut para bintang bernama belakang Champagne, Sabun Colek, Ubur-ubur, sampai Serigala (!).  Konsentrasi peserta terbagi dua ; berusaha membaca bahasa bibir atau ikut bergoyang! :))

Selanjutnya mentoring dari pak Steven Sioe. Karena peserta kategori ini dianggap sudah familiar dengan strobist, maka dijelaskan trik-trik dan peralatan yang melengkapi, seperti penggunaan gel penyaring cahaya flash, posisi, pengaturan, dsb. Para model juga diarahkan di beberapa tempat. Ada yang beraksi dengan tali (efek gerakan), yang lain berpose dan menaiki sepeda balap (panning). Peserta bebas memfoto dengan flash, lightstand, dan trigger masing-masing.

Flash, trigger, dan lighstand. Peralatan umum untuk strobist-an (di luar kamera dan tripod, tentu saja!)
Kalau sudah seperti ini memang setiap orang harus bergantung pada peralatan bawaan (atau pinjamannya) sendiri-sendiri. Itu kalau ingin maksimal. Bila tidak memiliki trigger atau hanya mengandalkan flash eksternal, tanpa menguasai tehnik lain untuk menutupi kekurangan, maka penerapan konsep dan ide tentunya lebih terbatas.

Tapi memang beda banget hasilnya bila memfoto dengan flash on shoe (menempel pada kamera) dibandingkan tehnik strobist.  Sulit membayangkan? Ok.  Mungkin kedua foto ini bisa dijadikan contoh.
Perbandingan jatuhnya cahaya pada dua foto on shoe dan off shoe. Anu....modelnya nggak ikut berubah, lho, ya(The 2nd photo credits to Anggit Priyandani)
Perhatikan kedua foto di atas ini. Foto pertama menggunakan flash eksternal menempel pada kamera. Sementara yang kedua flash off shoe. Terlihat cahayanya lebih lembut dan natural dibanding pada gambar sebelumnya. Membuat obyek dan background lebih menyatu, tidak seperti pencahayaan saat kita nonton wayang kulit.  Coba perhatikan, arah flashnya dari mana saja hayoooo?

Bukan hanya pencahayaan, untuk memfoto model yang bergerak juga ada tehnik tersendiri, menggabungkan flash, slow speed, dan panning.

 Road runner. Ini ke-fotonya nggak sengaja.

Semakin sore cahaya matahari semakin menipis. Efeknya menjadi semakin bagus. Acara sempat terhenti karena turun hujan. Padahal model sudah sampai ada yang turun ke air. Setelah hujan reda, pemotretan dilanjutkan juga di dalam Ancol Mall.

Karena terbagi menjadi beberapa kelompok dengan beberapa model, tidak terlalu sulit bagi peserta untuk berganti tempat dan mengambil posisi memfoto. Setidaknya nggak seperti yang dibayangkan.  Apalagi bila memang sudah fokus dengan model yang itu-itu saja.

 Apapun medan dan obyek....pokoknya totalitas!
Ok. Sekarang bagian human interestnya. Bagaimana ekspresi para peserta? Salut dengan para peserta cowok. Memang pada dasarnya totalitas, mereka memotret dengan maksimal.  Semua saling bantu sambil berkerumun di depan para model.  Bahkan tidak jarang ada yang posenya sampai baring-baring segala. Hm. Mungkin agar model terlihat menjulang seperti raksasa?


Gulliver. Dalam pandanganku, suasana memfoto model dengan strobist di acara itu adalah.....

Pada setiap acara memfoto, selalu ada catatan yang perlu diingat. Untuk kali ini :
  1. Penting memastikan ikut acara di jauh-jauh hari agar persiapan berbagai peralatan lengkap. Minimal bisa pinjam.
  2. Kadang saat hadir di lapangan keadaan tidak seburuk yang kita duga, jadi tidak perlu berandai-andai.
  3. Usahakan dari awal sudah punya konsep jadi kira-kira tahu mau foto dengan tehnik apa.
  4. Follow the leader, ikuti mentor, walaupun kesempatan foto-foto di awal menggoda, lebih baik dengarkan dulu penjelasan mereka sampai habis, baru setelah itu fokus memfoto.
Sedikit masukan mungkin bagi panitia, lain kali untuk acara jenis mentoring turun ke lapangan, please agar menyediakan pengeras suara atau toa. Apalagi bila suasana sekitar hiruk pikuk, kepinginnya suara mentor bisa terdengar lebih jelas bagi semua peserta tanpa kecuali. Terutama bagi peserta-peserta yang tidak mungkin merengsek ke depan, seperti cewek-cewek kali, yaaa.

Overall, walaupun tidak lengkap mengikuti semuanya, aku merasa mendapat cukup gambaran tentang bagaimana tehnik strobist di lapangan. Memang jauh lebih praktis ketimbang bawa-bawa lampu studio.  Acara ini lumayan ok.  Sayang tahun depan sudah tidak ada lagi acara Nikon On The Street yang edukatif namun terjangkau kantung semacam ini.  Tapi marilah kita semua pencinta fotografi berharap.
----
Apakah kamu suka memfoto menggunakan flash baik internal maupun eksternal?
Special thanks to mbak D for the candid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram