Fotografi dan Keluarga


Sebagai seseorang yang baru belajar fotografi, aku banyak mendapatkan pengalaman baru. Nasehat dari para senior di bidang ini adalah : banyak-banyaklah latihan. Practice makes perfect.

Statusnya bagiku memang masih kegemaran. Namun kita'kan tidak pernah tahu, ya, bila suatu saat sebuah hobi bisa berubah menjadi bisnis atau pendukung pekerjaan yang lebih serius?

Nah. Bagi para fotografer amatir maupun profesional, saat-saat weekend, sore hari, sampai malam hari sepulang kerja, adalah waktu-waktu favorit untuk hunting, alias "berburu", ikutan workshop, sampai lomba.

Sayang, seperti halnya hobi-hobi lain, bila tidak ditangani dengan bijaksana, dapat berubah jadi seperti candu.

Yah. Kalau mau diturutin, sih, setiap minggu bisa pergi hunting. Tentunya sebagai keluarga muda dengan anak yang masih kecil-kecil, akan muncul tantangan pembagian waktu.

Sebagai contoh, Dewi Sartika, ibu 2 anak yang sering memenangkan lomba dan sudah banyak menerima tawaran bisnis dalam memfoto. Dahulu ia memulai karir profesionalnya dari hobi motret di rumah dengan obyek suami dan anak-anak. Selama ini Dewi banyak bekerja sama mengatur jadwal bersama suami, misal soal menjemput anak.

"Intinya dukungan keluarga." pesannya. "Kalo mereka mendukung Inshaa Allah semuanya bisa diatur."

Disini aku akan membahas pengalaman sendiri dalam membagi waktu agar kegiatan berfotografi-ria tidak habis mengkonsumsi perhatian kepada keluarga dan aktivitas utama.  Maaf, masih versi photography enthusiast, ya ! Karena versi fotografer profesional, manajemen waktunya tentu lebih rumit dan ketat. Time table dari seorang working-at-home-mom yang punya studio foto bisa cukup padat. Anda bisa melihat contohnya di tulisan Stacie Jansen.

OK. Tarik nafas, mari kita mulai...


1. Buat skala prioritas 

Sebetulnya ini lebih ke konsep tujuan berkeluarga, sih, tapi nggak apa-apa nyinggung sedikit. Bila memang belum punya list itu, bisa dicoba urutkan skala prioritas dalam hidup kita, apa yang ingin dicapai. Dalam kasusku, saat ini kegiatan fotografi masih merupakan salah satu bentuk leisure. Jadi kue pembagian waktunya juga jelas. Dalam seminggu sampai sebulan, maksimalnya berapa jam.
Ada dua buah magic words yang bisa menetralisir banyak godaan :
Kita sedang benar-benar butuh atau hanya kepengin?
Apakah yang didapat kelak akan sebanding dengan pengorbanannya?#ilmu itung-itungan

2. Memilih genre fotografi yang fleksibel dan bisa di lakukan dimana saja

Praktek itu penting. Bagaimana mau menguasai alat kalau jarang dipakai? Mau itu handphone, mirrorless, DSLR, sama saja sia-sia, bila banyak fitur yang tidak dimanfaatkan.

Bagaimana bila ruang gerak terbatas? Yang aku perhatikan selama ini genre paling fleksibel adalah food, macro, miniature photography, dan still life (benda mati). Kenapa? Ya, mereka ada dimana-mana. Bisa di abadikan kapanpun.

Bandingkan dengan genre animal (besar), architecture, nature dimana kita harus berada DI LUAR. Kecuali di rumah punya kebun luas dan bagus, yaks.

Human interest..hmm..musti muter-muter kan. Masa iya mau foto dia lagi dia lagi? Hahaha.

Stage photography? Kalau keluarganya artis bisa kali, yaa...*harga tiket bikin nangis*

Genre yang kontroversial? Wah, mending jangan main api kalau nggak ingin terbakar...whiiy..

Bukan berarti aku tidak bisa pindah genre. Misal, mendadak di jalan lihat obyek menarik. Semua disesuaikan dengan kondisi. Hari gini kan yang namanya HP sudah punya kamera mumpuni.


3. Berusaha mendapatkan foto bagus yang selesai saat itu juga

Jadi saat mulai memfoto, aku berusaha semampunya agar langsung dapat hasil bagus, sehingga tidak perlu habis waktu di edit-edit lagi di Photoshop atau Light Room. Karena akan sangat time-consuming! Memang, kuakui untuk poin yang satu ini aku masih perlu belajar banyak dan berhenti jadi perfeksionis. Huiks.


4. Ajak pasangan ikut terlibat dalam kegiatan

Sudah bukan rahasia lagi, kata diprotes "pasangan" kerap jadi alasan untuk absen dari hunting. Entah benar atau sekedar bahan penolakan halus, semua kembali pada cara menyikapinya. Aku dan suami senang hunting foto. Kebetulan kami punya satu genre yang di suka. Hunting dengan pasangan lebih asyik dan nyambung bila punya target sama. Tapi memang ada fotografer yang lebih nyaman melakukan hunting sendirian, dengan berbagai alasan, misal, agar lebih fokus. Diskusikan dengan pasangan kemungkinan menyisihkan satu hari khusus untuk memfoto.

Nah. Bagi yang sudah berhasil ajak pasangan, bisa masuk ke taraf...


5. Hunting bersama keluarga

Hidup itu berjalan begitu cepat. Tentunya kita tidak ingin melewatkan masa-masa kebersamaan dengan anak-anak kan? Paling "dapet semua" itu adalah kegiatan piknik ke sebuah tempat dengan obyek beragam. Untuk dewasa ada, untuk anak-anak tersedia. Bila tidak ketemu, berlatih foto candid aktivitas keluarga sendiri juga seru, kok. Selain jadi kenang-kenangan, aku jadi belajar cara menangkap mood anak-anak yang bagus. Saat anak-anak mulai bosan dengan kita, lalu sibuk main sendiri, marilah kita secara bergantian berburu genre lain dengan lebih serius! #mukadicoretalaindian.


6. Jadwalkan jauh hari waktu hunting atau belajar

Tentu ada waktunya kita ingin hunting atau belajar dengan komunitas atau kawan-kawan. Bagian dari proses belajar, sosialisasi, atau "me time" (ayo, ngaku, ngaku aja, deh hahaha). Bagaimanapun juga "ngelmu" apalagi tentang dasar fotografi sangat penting.

Aku biasanya bikin kesepakatan jauh-jauh hari dengan seluruh anggota keluarga, sejak sebulan, hingga seminggu jelang hari H. Kalau mendadak spontan ikut kanan kiri, bisa banjir intervention
protes! Bagaimanapun mood terbaik hunting bagiku adalah saat bisa fokus dengan hati tenang.

-------

Jadi nggak ada alasan juga, sih, untuk nggak berlatih memfoto setiap hari.  Statusnya saja beda : solo karir hunting dan hunting....bareng keluarga.  Tinggal satu kata yang perlu diusir yaitu...malas (ini mah banyakan hinggap di diriku sih...hahaha).  Untuk hunting keroyokan, ikut lomba di lapangan, atau belajar di luar,  jadwalku tidak terlalu banyak. Rata-rata sebulan sekali sampai dua kali saja. Idealnya juga tidak sampai seharian (kecuali model workshop). Misal, weekend jam 08.00-13.00 hunting, sisanya family time.

----

Semua itu bukan tanpa alasan, karena aku sudah banyak melihat dan menerima berbagai masukan. Seorang photography enthusiast (bukan fotografer profesional), seyogyanya perlu mewaspadai bila terkena gejala-gejala sebagai berikut :
  • Secara spontan, melakukan kegiatan hunting foto keluar, bisa sampai lebih dari tiga hari berturut-turut.
  • Mengalami penurunan produktivitas di pekerjaan sehari-hari, kebanyakan tidak fokus.
  • Mulai ada anggota keluarga yang mengeluh, komplain, sampai apatis.
  • Sering bergadang, hidup tidak teratur karena lebih banyak memfoto/mengedit.
  • Tanpa sadar, besar pasak daripada tiang.
  • Kualitas hidup yang menurun, bukan meningkat.
Jika ternyata mengalami, terbuka kemungkinan kita tengah menjadikan hobi ini sebagai pelarian atas sebuah permasalahan, yang seharusnya lebih dulu diselesaikan. Sebaiknya diskusikan dengan keluarga atau hubungi ahli. Barometer yang paling mudah adalah reaksi dari anggota keluarga terdekat, sebagai saksi dari perubahan kita.

Ibaratnya naik sepeda, yang penting kan sampai tujuan dengan seimbang, bukan begitu?

So far, kiatku diatas menerima respon positif dalam keluarga. Tulisan ini juga sebagai pengingatku di masa depan. Namanya manusia kadang suka lupa. Mohon diingatkan terus ya. Heheheh.


Semoga semua ini bisa jadi gambaran bagi kamu atau pasangan yang mulai menyukai bidang ini.

---

Apakah kamu punya tips lain dalam menyelaraskan sebuah kegiatan yang kamu sukai dengan keluarga?

Special thanks untuk mbak Dewi Sartika atas sharingnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram