Kenangan Menyaksikan Langsung Asian Games 2018 (2)


Setelah puas menonton Festival Asian Games 2018 di kala pagi dan Velodrome,  hari ini aku bermaksud menyaksikan suasana  Festival waktu sore sekaligus pertandingan yang sedang berlangsung.

Penginnya, sih, menyaksikan pertandingan yang ada tim Indonesianya, ya. Tapi susahnya, bisa ditebak, tiketnya sudah keburu ludes. Hahaha.

Pertimbangan bagi tipe penonton yang sangat tidak berjuang '45 macamku ini cuma tiga (sebuah rumus yang boleh ditiru atau tidak), urutan pilihan pertandingan berdasarkan cepatnya tingkat keludesan tiket, yaitu :

1. Nonton pertandingan yang ada tim Indonesia di final (ini beruntung banget kalau dapet)
2. Nonton pertandingan yang ada tim Indonesia tapi bukan final
3. Nonton pertandingan yang tidak ada tim Indonesia tapi final

Nomor satu sudah dicentang di Velodrome kemarin. Lucky..

Yayy...(giphy.com)
Hari ini giliran yang nomor 3. 

Jauh hari sebelumnya aku sudah membeli tiket online untuk menonton pertandingan final Judo.

Pertandingannya dari pagi, sayangnya tim Indonesia tidak masuk final karena sudah tersapu di pagi hari. >_<

Banyak pilihan lain sebetulnya, tapi karena banyak pertimbangan aku memilih judo saja. Terutama karena ini yang final dan lapangannya indoor, yaitu di Jakarta Convention Center (JCC).

So, the show must go on....

H-1 Menjelang Penutupan Asian Games 2018

1. JCC

Sore hari sekitar pukul 15.00 meluncur menuju Gelora Bung Karno (GBK).

Perbedaan jelas antara ke GBK saat pagi dan saat sore.

"..............." (giphy.com)

Macet.

Saking macetnya, lebih cepat pejalan kaki dari pada pengendara kendaraan (kecuali kamu naik busway).

Di gerbang 6 GBK, pengunjung sudah membludak memasuki festival. Benar-benar ramai seperti mau ngantri sembako. Untung sudah punya e-ticket,  tinggal di scan dan langsung masuk.

Tapi ini baru permulaan.

Kata mbak panitianya,

"Nanti naik shuttle bus saja ke JCC, mbak."

Baiklah.

Mataku berusaha beradaptasi dengan sedemikian banyak manusia dan antrian. Betul, banyak banget antrian sampai nggak ngerti mereka itu lagi antri apa, yaks? Suvenir? Mie ramen? Atau....

Shuttle Bus!

Gedubrak.

Antrian shuttle busnya sore itu begitu sejuta umat...

Shuttle bus di area GBK (gambar Viva.co.id)

Mens sana in corpore sano!

Mari kita gerak jalan sehat saja kawan ke JCC. Seperti kasus kemacetan di Sudirman, kayaknya lebih cepetan jalan kaki ketimbang antri naik bus.

Hap two-three-four....!

Gaya jalan cepatku ketika menuju JCC...(bbc.com, giphy.com)
Setelah gerak jalan sehat selama beberapa menit, sampailah di depan gedung JCC. Beli air minum sponsor dulu. Katanya boleh dibawa masuk ke dalam karena sponsor. Oke, diambil. 

Kemudian masuk ke dalam gedung JCC, pertandingan akan dimulai pukul empat sore. 

Dalam gedung, ternyata ada pameran dalam bentuk kecil. Kebanyakan perlengkapan olah raga merek terkenal. Kirain disini juga ada suvenir resmi. Lumayan kan bisa dapat tanpa ngantri sejuta umat. Sayangnya nggak ada. Huhuhuhu...

JCC penonton dikelompokkan...
Naik ke ruangan utama ada pemeriksaan, wah ternyata nggak boleh bawa air minum. Informasinya agak simpang siur. Ya, sudah akhirnya dititip di bawah meja dekat tangga masuk. Setelah tiket di scan, tangan di cap tanda untuk masuk.

Menundukkan kepala pertanda pertandingan grup dimulai

Saat memasuki pintu masuk, tampaknya pertandingan sudah dimulai. Suara sorak sorai membahana.
Sebagian besar bangku diduduki penonton Indonesia, sisanya Korea, Kazakhstan, Jepang, dan Cina. Untuk pendukung negara lain mereka ditempatkan di area tempat duduk masing-masing, tapi ada juga beberapa orang yang "kesasar" di bagian penonton Indonesia. Lucu juga kibar-kibar bendera sendirian.

Penonton Indonesia rupanya ada yang putus asa, sudah terlanjur nonton tapi tidak ada tim Indonesianya. Seruan mereka macam-macam. Bikin tawa menggemuruh di seluruh stadion.

Contohnya, begitu tim India dan Cina masuk, langsung disoraki,

"INDONESIAAAA!"

Gara-gara tulisan India-nya disingkat IND.  Ok, nggak apa-apa, mari kita penonton, ber-halu (halusinasi) dikit....

Pertandingan India vs Cina, (IND) bukan Indonesia lho..
Hmm. Bagaimana sebetulnya penilaian pertandingan judo itu? Sebetulnya nggak terlalu susah  memahami. Pokoknya kalau seorang pemain berhasil dibanting atau dikunci aja gelagat dapat nilai.

Syukur-syukur kalau anda jadi saksi saat ada "ippon" yang sempurna (langka terjadi).

Para pemain yang sudah terdesak karena dikunci lawan biasanya menggeser-geserkan badan keluar arena supaya "out", sehingga permainan harus dimulai lagi dari awal.
Cari selamat, keluarkan diri dari arena...
Kita penonton melihatnya gampang, ya. Tapi bagi pemain kelihatan banget mereka harus bersusah-payah sekali menjatuhkan lawan (yang tentu sudah tahu caranya supaya nggak dijatuhkan). Sampai tarik-tarikan baju, sandung sana-sini, ngebanting, terpelintir-pelintir.

Gemas sekali.

Cuma memang disitu serunya. Beberapa kali penonton sampai tercekat melihat sapuan mendadak dan salah satu pihak terkapar. Pihak lain akan buru-buru mengunci sebelum yang bersangkutan meronta-ronta dan membebaskan diri dengan berbagai cara.
"Kunci.."
Saat melihat seorang pemain setengah mati berusaha mengunci lawan, anak kecil yang duduk disebelahku berkomentar,

"Kayak mau nangkep belut, ya..."

Errr....(giphy.com)
Aku mulai mengalami kesulitan untuk berhenti membayangkannya!

Yang menarik, aku sempat menyaksikan pertarungan beregu campuran putra-putri yang bikin kaget.

Ada pejudo asal Jepang yang, ya ampuun...jago banget. Jawara. Gimana nggak, begitu salam, mulai, tiba-tiba saja lawannya terkapar. Langsung poin. 

Hii. Itu napas saja belum sempat, sudah tergeletak.  Jangan sampai ketemu orang itu di jalan, wahai, begal dan preman!

Pemain putri juga nggak kalah ganas. Bertarung sengit sambil berteriak-teriak dalam bahasa masing-masing yang tak kumengerti.  Artinya apa, sih, kakaaaak...(semoga ada subtitlenya nanti di youtube)
Bertarung sengit termasuk dalam bahasa masing-masing...
Yang menarik, kalau tim Jepang sedang main, suporternya langsung kompak melakukan yel-yel.

"YO! TA-NA-KA!"

"IKE-IKE KOBAYASHI!"

Suporter Jepang menyerukan jagoan mereka, eh lho kok ada bendera Indonesia di kiri bawah??
Dan suara beberapa suporter dari Indonesia yang masih halu pun jadi terbagi dua, awalnya bela tim lawan karena merasa senasib dan ingin bela tim yang dianggap lemah. Tapi karena seruan para suporter Jepang itu terdengar lebih "catchy" akhirnya bunyi para suporter Indonesia mulai belok,

"IKE-IKE KOBAYASHIII"

???...bukannya tadi pada bela Kazakhstan??

{{Untung ini bukan Pemilu...}}

Sulitnya melawan tim juara umum bertahan...
Tim Jepang memang kuat sekali. Beberapa kali aku lihat pemain lawan tampak sangat frustasi melawan mereka. Sudah sampai berdarah-darah (sempat time out sebentar karena itu). Saat lawan ngos-ngosan pemain Jepang tampak tenang dan mempertahankan sikap dingin. 

Bagaimanapun salut dengan semangat para atlit ini, walaupun sudah jelas beda keunggulan dalam segi teknik, tapi mereka berjuangnya terus sampai penghabisan.
Pemenang sudah ditentukan...
Dan seperti yang sudah bisa ditebak, pertandingan beregu final ini dimenangkan oleh tim Jepang. Ya, melihat kemampuannya, mereka memang layak menjadi juara. 

Di peringkat kedua Kazakstan dan ketiga Cina.

Mau peringkat berapapun tetap senang banget para atlit pemenang itu. Sampai selfie-selfie satu tim di podium peringkat.
Pemenang dari negara sana jago wefie juga ya...
2. Festival

Selesai menyaksikan pertandingan judo, aku makan malam dulu sebelum keluar dari JCC. Kali ini naik shuttle bus karena antrian tidak terlalu mengular. Di busnya sendiri, sih tetap himpit-himpitan. Hahaha.

Dari atas bus melihat zona Bhin bhin, Atung, dan Kaka sambil meneguk ludah. Ya ampun, ini satu umat daerah Jakarta Raya pada tumplek kesini semua ya? Penuuuh blas....

Kerumunan manusia dimana-mana...
Setelah turun dari shuttle bus, jalan terhuyung-huyung dalam keramaian....ini mana utara, selatan, barat, timur? Tenggelam dalam lautan manusia yang padat menggulung...

Bahkan antrian sebuah kios rumah makan, yang sehari-harinya suka dicuekin, panjangnya bisa sampai menghalangi jalan. 

Ini belum ada konser. Kalau ada entah bagaimana lagi penuhnya. 

Mau jalan ke toko suvenir, hahaha, rasanya kayak mau lempar jumroh di tanah suci. Himpit-himpitan sehingga akhirnya lupa tujuan aslinya tadi mau ngapain. Hahahaha...

Yang ini jalanan lho...jalanan, bukan antrian!
Kadang aku bingung juga, kalau sudah penuh manusia begini, apa yang mau disaksikan dan dinikmati, ya (eh, kecuali anda super tinggi)?

Dan pertanyaanku terjawab saat itu juga..
Datang terus, lagi, dan lagi...
Semua orang yang datang mengalir deras seperti air ini sebagian besar justru tidak datang untuk menonton pertandingan atau mengantri suvenir!

Mereka datang...yaa, untuk melihat suasana saja.

Melihat Festival Asian Games itu seperti apa.

Rasa ingin tahu yang membuncahlah, yang sebagian besar berperan menghadirkan semua pemandangan ini.

Setelah melayang kesana dan kesini tanpa makna, akhirnya aku angkat tangan, dan mencari jalan keluar saja....ke gerbang 6. 

Keluar dari gerbang 6, aku harusnya menyebrang jalan melalui jembatan penyebrangan. 

Terpaku.

Antrian di kaki jembatan penyebrangan menggunung seperti sekumpulan semut dalam botol yang antri menuju pintu keluar leher botol. Antrian di dalam jembatannya sendiri padat merayap.

Speechless.....
Ya ampuuun....Hebat juga konstruksi jembatannya, nggak melengkung roboh dengan beban sebanyak itu. Sampai ada petugas khusus di atas jembatan yang ngatur lalu lintas manusia! Buka tutup buka tutup kayak lalu lintas menuju Puncak!

Setelah bertarung dengan lautan manusia di jembatan penyeberangan, aku sampai dengan selamat di seberang (kayak apa aja). Ehlhadalah. Baru merasa jadi juara, tiba-tiba dari ujung sana terdengar suara-suara berseru-seru, seperti teriakan gembira kumpulan manusia baru dibebaskan dari kungkungan...

Ternyata orang-orang sudah terlanjur capek dan kesal antri naik jembatan, akhirnya nekad meluber menyebrang langsung di jalan Sudirman. Diiringi suara klakson para pengemudi mobil yang protes.
Yaaa, tahu begitu,,,
Meluber tumpah di jalanan seperti air...
Melihat hiruk pikuknya suasana malam jelang penutupan ini.....aku membayangkan bagaimana padatnya penutupan keesokan hari ini. Acara yang tiketnya baru dibuka saja sudah langsung habis! 

Aku tiba-tiba membayangkan menonton Closing Ceremony besok di depan TV sambil makan pop corn, dengan segala cemilan pelengkap lainnya.  Bisa ke kamar kecil kapan saja. Mau minum teh hangat tinggal bikin, tanpa perlu bertabrakan dengan orang lain. Makan malam bisa di ambil langsung tanpa mengantri. Ah, pasti sangat nikmat.

Ya. Rasanya aku  sudah cukup puas selama dua hari ini nonton pertandingan. Closing ceremony biarlah buat mereka-yang-terpilih.

Tempat menonton ternyaman...(giphy.com)
Tentu saja kesimpulanku malam ini tidak mewakili keseluruhan pengalaman, karena melihat penyelenggaraan, tempat, pertandingan, sudah luar biasa dan membanggakan sebagai orang Indonesia.

Ketika ada wacana Indonesia sebagai penyelenggara Olimpiade, aku mengingat kembali semua pengalaman diatas. Belajar dari pengalaman Asian Games tahun ini kita tentu punya kemampuan, pertanyaannya, sebagai rakyat yang mendukung, siapkah kita?
Pemandangan langit di gerbang 6 GBK
Moga-moga.

Mungkin aku bisa mengenang pemikiran ini 30-40 tahun lagi saat Indonesia kembali menjadi tuan rumah. 

Bagaimana denganmu, punya kenangan lain tentang Asian Games 2018 lalu?
----
Bagi yang belum bisa move on dari Asian Games 2018, masih ada Asian Para Games 2018, yang tidak kalah seru, menggunakan stadion-stadion yang di gunakan di Asian Games sebelumnya. Jangan lewatkan!

**Gambar, selain yang disebutkan sumbernya, diambil dari dokumentasi pribadi

8 komentar:

  1. asyik banget bisa langsung nonton, sensasinay apsti luar biasa

    BalasHapus
  2. Kenanganku tentang Asian Games tinggallah tas serut bahan kain bergambar maskot AG 2018, yang isinya 5 bungkus Indomie. Beli di supermarket sebelum Asian Games....hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus itu...aku malah nggak punya suvenirnya...

      Hapus
  3. sensasinya emang beda klo nonton secara langsung, seneng bgt punya pengalaman nonton langsung Asian Games :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah, ini saja awalnya sudah hampir nggak jadi...

      Hapus
  4. Pasti asyik ya bisa nonton langsung keseruannya. Saya yang nonton dari televisi aja udah berasa banget, apalagi situ? Jadi iri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ini kebetulan beruntung. Semoga lain kali anda bisa mengikuti event serupa ya...

      Hapus