Ada Victory Dance di Asian Para Games 2018



Asian Para Games 2018 telah berakhir. Dan berakhirlah sudah event terakhir olah raga se-Asia di Indonesia.

Ini adalah sebuah cerita yang terserak sepanjang pengalaman menyaksikan langsung...


Gelora Bung Karno


Hari Kamis aku tiba sekitar pukul delapan di Gelora Bung Karno. Suasana tidak begitu ramai. Kalau aku membandingkannya dengan Asian Games 2018, malah termasuk sepi.


Poin plusnya, transportasi di sekitar kompleks GBK ini sangat banyak lowong tersedia, dari bus sampai kereta mobil. Tidak seperti kemarin saat Asian Games berlangsung, dimana aku terpaksa berjalan kaki karena antrian naik shuttle bus sendiri bisa sejuta umat. Alhamdulillah,  sekarang bisa menikmati berpindah dari stadiun ke stadiun tanpa kena panas. Yay!

Beda dengan event sebelumnya, tidak ada "pasar festival" dari sepanjang yang kulihat pagi itu. Jadi pengunjung yang tiba murni datang untuk menonton pertandingan.


Rombongan yang kebanyakan dari sekolahan mulai berkumpul didepan stadiun Gelora Bung Karno untuk menonton Para Athletic. Dan tebak? Suasananya amat lenggang! Sehingga serasa jadi VVIP karena di satu sisi stadiun hanya aku saja yang menempati *duduk meloya*  Hal yang tidak bisa kubayangkan di momen lain.


Di nomor Para Athletic, yang sempat kulihat adalah lempar lembing dan lari jarak pendek. Untuk nomor lari atlit yang tuna netra lari didampingi oleh guide-nya masing-masing. Sementara pada lempar lembing bisa lihat sendiri di foto. Semangatnya luar biasa.

Stadion Akuatik


Karena keterbatasan waktu, aku pindah ke stadiun berikutnya yaitu renang. Berpindah dari GBK ke Stadion Akuatik naik mobil kereta! Serasa di Taman Mini hihihi. Seruuu! *masa kecil kurang bahagia detected*

Pada cabang Para Swimming, aku menyaksikan para atlit dengan variasi pertandingan masing-masing.


Contohnya ada nomor bebas, dimana semua atlit (ada yang tidak memiliki kaki, tangan, dsb) berlomba dengan gaya yang dipilih. Bisa bebas atau punggung. Tampak seorang atlit yang luar biasa cepat walau memiliki keterbatasan. Semua penonton bertepuk tangan baik bagi pemenang maupun yang tiba belakangan.



Stadion Velodrome

Hari berikutnya adalah cabang olah raga yang menjadi favoritku (bukan cuma karena tempatnya enak juga, yah) yaitu sepeda.

Para Cycling bertempat di stadiun megah Velodrome. Kebetulan pada hari dimana aku hadir, yang dipertandingkan adalah nomor perorangan.  Aturan mainnya berbeda dengan nomor pertandingan balap sepeda biasa (seperti Asian Games) dimana ada pertandingan sepeda ramai-ramai.

Pertandingan awalnya adalah sesi perorangan dulu. Jadi misalnya giliran atlit A dia akan melaju sendirian dahulu sampai finish kemudian di catat waktunya. Demikian juga dengan atlit B, C, D, dst. Peringkat berdasarkan dua waktu tercepat. Setelah itu akan dipertandingkan dua kandidat peringkat satu dan dua.



Sangat menarik karena atlit-atlit Para-cycling muda Indonesia kemampuannya tidak kalah dengan atlit dari mancanegara! Dan aku punya perasaan baik tentang pertandingan kali ini. Sehingga memutuskan mengikutinya hingga usai.

Untungnya firasatku tidak meleset, karena pada nomor individu putra C4 4000 meter dan nomor final atlit Indonesia M. Fadli Immamuddin berhasil mengalahkan atlit Malaysia Mohammad Najib Turano! Dengan demikian ini adalah medali emas ke 25 sekaligus pertama di nomor Para-cycling.


Bagaimana perasaanku saat menyaksikan pertandingan mereka? Wah, susah dideskripsikan. Yang jelas...seru bingits!! Apalagi saat seluruh penonton bergelora menyemangati sang atlit. Stadionnya serasa bergetar mau runtuh oleh sorakan-sorakan. Sang pemenang juga sampai menghampiri penonton segala.

Ketika melihat kedua atlit berpose ceria kearah penonton sambil berpegangan tangan, tidak ada pemandangan lain yang mampu mewakili suasana persahabatan dan sportivitas dari kedua atlit. Senang melihatnya, kontras bila membandingkan dengan kebiasaan saling serang antar negara yang sering terjadi di dunia maya (terus terang hal itu bikin bosan penonton macamku).

Drama terjadi di pertandingan berikutnya, di nomor individu putra C5 4000 meter atlit Saori Sofyan bersaing sengit melawan atlit Filipina. Namun sayang, ketika akan menyusul ia jatuh terguling tertimpa sepeda, di bawah napas tertahan semua penonton yang menyaksikan. Wah, kecewa sekali pasti. Para penonton Indonesia yang sempat hening kemudian sontak membahana menyemangati.

Bendera merah putih  dinaikkan paling atas diiiringi lagu Indonesia Raya, pada acara penyerahan medali emas untuk M. Fadli Immamuddin.  Ribuan penonton satu stadion ikut bernyanyi.
Aku merinding disko. Dan jadi terharu juga, setelah selama ini nonton pertandingan, di penyerahan medali lebih banyak denger lagu kebangsaan bangsa lain terus hiks hiks (apes aja aku nggak nonton yang pas Indonesia menang hahaha).


Suatu kehormatan, bisa menghadiri dan menyaksikan performa para atlet di  tengah segala kekurangan, berjuang demi negara masing-masing! *bagaimana dengan kita ya*

Di saat pembukaan acara, waktu tunggu, dan penutupan, biasanya di Velodrome ini selalu diadakan "Victory Dance", alias tarian kemenangan diiiringi lagu Asian Para Games 2018, "Song of Victory." Ketika diperdengarkan, sound system menghasilkan efek suara yang menggema sangat bagus dan bergaung begitu megah. Tarian kemenangan pun dibawakan oleh para panitia serta relawan dengan bersemangat di hadapan, mengajak penonton untuk ikut menari.

Khusus pada akhir acara kali ini, maskot Asian Para Games 2018, MoMo si elang bondol ikut berpartisipasi menari. Pst, dia juga doyan jalan-jalan menghampiri penonton sepanjang pertandingan berlangsung, lho. Ramah banget dan mau diajak foto-foto!

Para penonton pun menari...
...Victory Dance saat kemenangan usai terjadi...


Walaupun animonya seperti sudah tenggelam pasca klimaks Asian Games 2018, Asian Para Games 2018 tetap memiliki ciri khas tersendiri. Terutama pada spirit para atletnya yang luar biasa dan keunikan pertandingan-pertandingannya.

Sampai sekarang aku masih selalu terngiang nada dan suasana itu.  Kala ribuan manusia menaikkan tangan bersama-sama, melompat, berputar, diiringi lagu menghentak di hadapan lintasan balap sepeda berbahan kayu siberia sepanjang 250 meter. Aku tak tahu apakah momen yang sama akan bisa terulang, suatu hari sekitar 30-40 tahun lagi.


Dan  bangunan luas beratap membran dengan penerangan cahaya alami itu akan selalu menjadi saksi bisu segala perjuangan, keringat, tawa dan air mata yang hadir dalam dua pesta olahraga megah. Dimana ribuan orang tanpa peduli latar belakang satu sama lain,  bersatu dalam meneriakkan sebuah kata.

Indonesia.

2 komentar:

  1. terimakasih ceritanya, aku lihta mereka bertanding apalagi yg cacat fisik kakinya atau tangannya lhtnya ngilu, takut ada apa2

    BalasHapus
  2. Sampai sekarang saya masih belum ada kesempatan untuk melihat para pahlawan kita berjuang mengharumkan nama Indonesia. Semoga tahun kedepan bisa

    BalasHapus