Tentang Fotografi Makro


Kali ini aku ingin bercerita tentang fotografi makro (macro photography). Bagaimana proses yang terjadi dibelakangnya, apa sebabnya genre ini bisa membuat ketagihan. Serta apa sisi lain dari fotografi makro yang mungkin tidak diketahui?

Penasaran? Aku sharing pengalaman, ya....

Apa obyek fotografi makro?

Sebetulnya tidak terbatas. Tapi karena karakter lensanya yang khas, obyek umum adalah binatang kecil  seperti serangga, reptil, dsb. Selain itu bisa juga tanaman seperti bunga.

Serangga dan reptil umumnya jadi obyek populer fotografi makro (set dan konsep : Eko Adiyanto)
Yang populer biasanya adalah binatang.  Kalau melihat dari jarak dekat, bahkan serangga menggelikan bisa berubah jadi luar biasa. Mungkin seperti fenomena pangeran kodok. Kelihatannya, sih,  kodok, sangat biasa dan nggak menarik. Ternyata kalau dilihat lebih detail sebetulnya pangeran (eh lho). Hahahaha...

Nah, proses menghasilkan foto makro ada dua. Ini aku sarikan sendiri berdasarkan pengalaman menjalani selama ini, ya :

1.Alami

Yaitu hunting mencari binatang di habitatnya, kemudian memfoto mereka apa adanya. Seru bagi mereka yang suka berpetualang, karena mencarinya  bisa ke berbagai medan. Ya, rada miriplah dengan fotografi kehidupan liar (wildlife photography).  Beda di lensa saja.

Fotografi makro alami bisa menemukan obyek menarik juga, lho. Ini kupu-kupu yang kutemukan di sawah..

2. Terkonsep


Binatang dan latar belakangnya kita sudah atur sedemikian rupa sehingga sebuah foto memiliki cerita atau penampilan yang cantik.  Bila kita kreatif dan tekun, bisa menghasilkan berbagai pose yang menarik dari kelakuan sang model (binatang).

Tidak banyak berbeda dengan memfoto model dengan konsep, cuma model yang ini nggak perlu di dandanin dan nggak bisa ngomong haha. Model beneran bisa di arahkan, bisa curhat kalau lagi bad mood...atau bisa protes. Tapi kalau binatang, harus dipelajari sendiri bagaimana maunya, kelakuan dan sifatnya. Fotografernya harus jauuuuh lebih sabar.

Fotografi makro terkonsep dengan memanfaatkan perilaku semut (set dan konsep : Eko Adiyanto)

Berdasarkan tempat pengambilan gambarnya,  fotografi makro yang terkonsep bisa dibagi dua :

a. Binatang tetap berada di habitat asalnya

Hanya bisa diterapkan untuk binatang tertentu saja. Misal, capung kawin. Biasanya kan mereka ya begitu aja posisinya.

Foto makro yang aku ambil ini tidak terkonsep (alami), tapi biasanya pasangan capung bisa dipindahkan ke tempat lain
Manusia bisa pelan-pelan memindahkan mereka ke tempat berlatar menarik (ada kertas background hati terpanah menyala-nyala?). Binatangnya sendiri nggak akan kita bawa pulang, ya.

b. Binatang di pindahkan ke habitat manusia (alias kita).

Cara mendapatkan para binatang yang akan dibawa pulang  bisa :

(i) Menangkap sendiri dari hasil hunting

Ini jelas, binatangnya kita bawa pulang begitu menemukan. Lalu kita memfotonya di dalam ruangan (atau di kebun kita) sesuai konsep yang dimaui. Bahkan ada yang membawa sekaligus sarang-sarangnya, lho. Di rumah atau kebun kita lalu bikin konsep yang diinginkan, ala-ala studio mini, begitu.

(ii)Beli dari orang lain

Biasanya yang beli dari orang adalah hewan-hewan yang langka, cantik, dan sangat fotogenik. Yang sering aku lihat adalah beberapa jenis kodok, serta reptil.

Contoh makro ekstrim dengan obyek laba-laba 
Oya selain fotografi makro alami dan terkonsep ada juga ada fotografi makro ekstrim.

Foto yang dihasilkan menitik beratkan pada close-up super dekat penuh dengan detail hewan itu sendiri. Misal : pada laba-laba fokus bukan pada keseluruhan badan, tapi pada mata atau bulu-bulunya.   Fotografi makro ektrim membutuhkan lighting khusus, namun tidak terlalu membutuhkan konsep. Seringkali hewannya dibawa pulang (kecuali bisa menghasilkan foto yang bagus  ditempat).

Apa saja peralatan untuk fotografi makro terkonsep?

Peralatan Pencahayaan

Untuk yang sudah serius biasanya memiliki flash khusus untuk fotografi makro (bentuknya mirip banget sama antena serangga).  Ada juga yang memakai lampu studio, biasanya model softbox.
Bagi yang nggak punya, bisa memanfaatkan cahaya alami alias available light.
Available light, macro twin flash, dan softbox (Macro Photography Workshop by Andiyan Lutfi & Eko Adiyanto)

Peralatan Pendukung Konsep


Printilan lain untuk mendukung konsep yang kita maui juga nggak harus mahal, bisa memanfaatkan barang yang ada di rumah seperti ember, baskom, bumbu dapur.

Lensa pendukung

Umumnya menggunakan lensa makro. Berapa ukurannya, tergantung kita mau memfoto obyek apa. Yang jadi pertimbangan adalah pergerakan dan sifat binatangnya.  Kalau gampang kabur agak sulit bila pilihnya lensa 35mm (harus mendekat). Apalagi kalau binatangnya berbahaya, seperti ular atau kalajengking, resiko tanggung sendiri, ya. Hehehe.

Selain lensa makro, ada juga  produk lensa yang bisa dipakai sebagai "lensa tambahan" pada lensa yang kamu punya (sebaiknya lensa tele). Biasanya posisinya akan menempel di depan lensa utama. Sifat dari lensa ini mirip kaca pembesar bagi lensa yang sudah ada.

Contoh lensa tambahan (gambar : wikimedia.org)


Kelebihan lensa tambahan :

1. Murah-murah-murah!

Dibanding harus beli lensa makro, yang harganya bisa berjuta-juta dan nggak dijamin juga apakah setelah sekian tahun kita tidak bosan dengan genre ini. Lebih baik yang murmer ya.

2. Praktis dibawa dan nggak makan tempat

Kita hanya perlu menyimpan lensa kecil itu di dompet kain kecil dan masih bisa membawa lensa utama.  Kalau butuh pakai, baru dipasang.

3. Pelengkap sempurna bagi yang suka bawaan ringan-ringan

Memfoto makro itu nggak gampang, selain harus sabar, tangan perlu stabil. Bawa tripod? Euh, nambah beban. Tapi bila tidak pakai, adakalanya tangan kita lelah, gampang gemetaran alias tremor menahan beban kamera plus lensa. Pasti enak jika kameranya ringan (seperti mirrorless), lensanya juga ringan dan hanya butuh lensa tambahan.

Maunya seringan ini..(gambar : giphy.com)

Kelemahan lensa tambahan :

1. Manual

Sebetulnya bisa pakai auto fokus, hanya saja mode manual jauh lebih cepat. Bagi yang kurang sreg dengan manual,  jadi tantangan tersendiri, karena harus maju-mundur secara konsisten. Usaha yang dibutuhkan jauh lebih ekstra.

2. Muncul "vignette"

Pada beberapa kejadian muncul semacam lingkaran menghitam halus pada sisi-sisi luar gambar. Bukan masalah besar, tapi tetap harus melalui proses editing untuk menghasilkan gambar yang bersih.

3. Reflek kurang cepat

Bila menggunakan lensa makro biasa kita mudah berpindah pindah fokus secara cepat, terutama bila dalam mode fokus otomatis. Dengan lensa tambahan, perlu pelan-pelan menyesuaikan jarak dahulu untuk fokus (karena manual).

4. Tidak bisa fleksibel mendadak berganti fungsi

Beda dengan lensa makro yang bisa mendadak beralih fungsi jadi lensa biasa yang super tajam.
Bila lensa tambahan dipasang,  lensa tele kita akan berubah 100% jadi lensa makro. Hanya bisa fokus ke obyek kecil. Jadi kalau tiba-tiba ada orang cakep lewat, nggak mungkin cuss tiba-tiba jepret diam-diam. Hahaha.

Telat mas...(gambar: giphy.com)

Bagaimana pengalaman fotografi makro di lapangan?

Yang alami rasanya seru, sih. Beneran. Karena insting berburu dan ketajaman mata kita akan terlatih untuk menemukan obyek. Senang banget kalau kita berhasil menemukan obyek yang langka atau rupanya lain dari yang lain.

Sisi positif lain, kita bisa merekam kelakuan binatang apa adanya tanpa mengganggu kehidupannya, menemukan banyak pengalaman baru, serta lebih menjaga kelestarian alam. Tentu saja ada kelemahan, yaitu  perlu usaha lebih agar gambar terlihat menarik. Biasanya main di sudut pengambilan.

Tempat hunting makro yang kaya akan binatang menarik selain dekat sungai adalah sawah
Catatan, yang begini hanya cocok buat kita yang nggak keberatan menjalani berbagai medan. Pengalamanku hunting makro bisa sampai masuk ke sawah, pinggiran hutan, sampai ke sungai-sungai di kaki gunung. Yang namanya sepatu bisa disangka ketukar sama ceker kerbau karena sudah nggak keruan bentuknya saat pulang.

Bila hunting bersama, pastikan juga kita cerita apa adanya tentang segala kondisi medan. Sehingga nggak pada salah kostum, mendadak mogok nggak mau masuk medan  (tapi ditinggal sendirian juga nggak mau). Kita nggak bakalan ketemu obyek deh, udah pada kabur duluan. Atau kitanya cuma berkutat disitu-situ aja. Huhuhuhu...

Bagaimana pengalaman fotografi makro terkonsep?

Terkonsep di alam : ulat diumpankan agar menaiki sebuah tangkai yang menarik...
Untuk yang terkonsep tapi posisinya di alam, susah-susah gampang hahaha. Karena binatangnya lebih kenal medan rumah sendiri daripada kitanya. Suka kabur dengan cepat. Tapi kalau mau sabar bisa, kok. Contohnya "menggiring" binatang ke wilayah tertentu yang lebih fotogenik, menaruh hewan di daun yang berwarna kalem sehingga kontras kulitnya terlihat, memakai "umpan", dsb.

Bila posisinya di dalam studio atau kebun sendiri, kita bisa lebih berkreasi. Hasil-hasilnya sering mencengangkan.

Sisi lain dari fotografi makro yang jarang diketahui....

Yang namanya manusia, selain memiliki kreativitas, juga rasa "penasaran" yang tinggi. Khususnya pada fotografi makro terkonsep. Kadang demi keberhasilan sebuah karya, "korban-korban" berjatuhan dianggap bukan hal aneh. Biasanya mereka dari golongan beberapa jenis serangga.

Ending bagi para model-model kecil ini kadang tragis. Terutama bila mereka tipe-tipe pasaran, tidak langka dan mudah digantikan (kalau yang langka dan mahal kan pasti ekstra hati-hati). Ada yang mati tenggelam, kecapekan, stress, sampai....nggak sengaja keinjek! *ups*

Contoh, untuk sebuah foto dengan konsep "Serangga berlayar diatas daun",  model serangga kecemplung berulang-ulang,  lalu dinaikkan lagi. Kalau mati (tenggelam), nanti diganti yang baru. Begitu seterusnya, sampai manusia berhasil mendapat gambar yang menarik, serta hasil yang begitu indah, membuat mulut semua orang menganga.

Selain pada genre makro, tidak ada fotografi terkonsep lain yang bisa lebih banyak memakan korban modelnya sendiri. Atau adakah yang lain?  

Jelas, tipe ini akan kurang cocok bagi kamu yang nggak tegaan,  pencinta hewan bebas, atau  hmmm...mungkin bagi yang punya kepercayaan akan adanya karma, sampai binatang-binatang yang akan bersaksi kelak bahwa mereka pernah diperlakukan seperti apa. Wilayah abu-abunya jika itu bersifat percobaan ilmiah, kali, ya.

Baca : Kuasa Atas Tombol Shutter

Tentu saja semua kembali ke kita juga. Mungkin kamu bisa melakukan fotografi makro terkonsep tanpa mengorbankan jiwa satu binatang pun? Siapa tahu, lho..
Jadi pilih yang mana?

Karena aku lebih suka berburu, tentunya merasa sreg dengan yang alami. Kalaupun suatu saat pakai yang terkonsep, sebisa mungkin binatangnya nggak dibawa pulang.  Sederhana, sih, takut ketagihan hahahaha.

Habis, suka mendengar curcol mereka yang rumahnya jadi penuh berbagai serangga dan reptil. Terbayang bila itu terjadi padaku. Bisa-bisa penghuni lain (yang manusia)  keluar tanduk. Aku akan sukses terusir bersama para serangga bawaan, terlanjur sudah dianggap satu spesies!

Bagaimana menurutmu tentang fotografi makro? Apakah kamu suka foto yang alami atau terkonsep?

-----
Foto judul : fotografi makro terkonsep dengan kodok hijau jenis  agalychnis callidryas (konsep : Andiyan Lutfi)
Semua gambar kecuali yang disebutkan sumbernya diambil dari dokumentasi pribadi




25 komentar:

  1. dunia fotografi makro keren ya..hiksss kayak berada di dunia entah berantah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul sekali, makanya banyak yang jadi ketagihan :))

      Hapus
  2. Ahahah, jadi inget dulu salah satu genre favorit ini
    hunting makro ke sawah2 dan rerumputan, modal cuma lensa kit + lensa 50mm dengan reverse ring
    kadang pakai close up filter
    flash kotak odol

    selesai deh
    :D

    BalasHapus
  3. Hoooooaaaa. Keren foto-fotonya... Kayaknya bakalan sering nyasar kemari nie.. hahhaa..

    BalasHapus
  4. Hai, kak. Mumpung mampir, sekalian ninggalin jejak deh. Fotonya bagus-bagus. Pengen nangis saking bagusnya. Keren banget!!! Aku juga suka foto, tapi tanganku shaky entah kenapa dan hasilnya jadi menyedihkan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Cila. Terima kasih apresiasi dan jejaknya. Kalau suka shaky mungkin bisa pilih kamera lebih ringan atau pakai tripod...Semangat ya...

      Hapus
  5. " capung kawin, biasanyakan mereka ya begitu aja posisinya " LOL :)) ,

    Tapi ini keren bgt sih sekaligus kadang bikin geli lihat bentuk-bentuk serangga tertentu
    bisa sampai sedetail itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya dari dulu gitu melulu...Memang kadang lihatnya geli yah..

      Hapus
  6. Melihat hasil-hasil fotografi makro tuh kayak melambungkan imajinasi, karena selama ini kita melihat mereka dalam ukuran kecil.

    Anyway, saya sendiri lebih suka fotografi lanskap :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul....imajinasinya banyak bermain. Ah. Lanskap juga menarik, lho...

      Hapus
  7. ampuun dah , itu foto-foto kok kereeeen semua yaaak
    Kalau aku suka yang alami..Tapi sebgaia penikmat dan bukan penggiat kadang juga enggak tahu bedanya mana yang alami mana yang terkonsep hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih apresiasiny mbak Dian. Biasanya yang terkonsep suka aneh-aneh, kalau kulihat...

      Hapus
  8. Lagi serius lihat-lihat foto keren ala hewan makro, tiba-tiba nyangkut di gif-nya Myungsoo jadi merusak konsentrasi hahahaha.

    Aku tiap motret baik pake hape maupun kamera gak pernah ada yang bener mbak, bela2in beli kamera mirrorless tapi ternyata tetep aja hasilnya kok ngeselin yah hahahaha.
    Stres akutu :((((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.Huahaha gif Myungsoo spesial bagi penggemar..Ayo semangat mba pasti bisaa...

      Hapus
  9. Aku belajar hal baru di sini soal Fotografi Macro. Dulu pernah sih baca gitu. Cuma aplikasinya rumit. Dan kurang tertarik aja kali ya.
    Kalau foto percikan air gitu bisa termasuk?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau pakai lensa makro , masuk. Cuma jarang karena kalau percikan air harus cepat. Umumnya orang dengar kata fotografi makro=serangga.

      Hapus
  10. sy sudah pensi main macro. ribet. sy akhirnya sekarang main landscape dan street saja. :)

    BalasHapus
  11. kasian tu korban2 serangga hasil percobaan yang gagal.. aku sendiri ga terlalu suka sih fotografi makro, tapi gak ada salahnya suatu saat juga mencoba hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kasian, kalau ikut WS ga tega memajang foto yang banyak korbannya dalam proses. Coba saja yg alami, mudah kok...

      Hapus
  12. Wah, harus pintar-pintar baca momen, ya. Kapan si hewannya bertingkah sehingga bisa menghasilkan foto yang bagus. :)

    BalasHapus
  13. ampuunnn, kereeennn banget foto-fotonya.
    Saya tuh dari dulu salut banget ama hasil foto orang-orang yang detail kayak gini, ternyata namanya makro ya.
    Pengen deh belajar fotografi, gak perlu terlalu ahli dulu, minimal bisa menghadirkan objek yang keren sebagai pelengkap tulisan di blog :)

    BalasHapus